MANUSIA
IBARAT PENSIL
Kita semua tahu pensil. Kita
bisa menjalani hidup ini dengan tenang dan gembira jika kita mau belajar dari
lima kualitasnya. Pertama: pensil itu bisa menulis karena ada tangan
dibelakangnya, ada yang menggerakkan. Hidup kita juga demikian. Semua
keberhasilan yang kita capai karena ada Tangan Tuhan yang membimbing. Itu
sering kita lupakan ketika karir kita sedang naik membumbung atau usaha kita
mencapai sukses. Sebaliknya, ketika menghadapi tantangan atau kesulitan atau
kebimbangan, kita harus ingat bahwa Tuhan tidak membiarkan kita sendirian.
Tangan Tuhan akan membimbing kita seperti tangan manusia membimbing pensil.
Tuhan akan membantu melapangkan jalan bagi mereka yang punya niat tulus
melakukan kebaikan untuk orang yang membutuhkan pertolongan.
Kedua: Pensil memberi kesempatan
menghapus tulisan yang salah lalu memperbaikinya. Kita juga demikian, harus
bersedia rendah hati mengakui kesalahan dan membetulkan langkah kita. Cara
terbaik menbus kesalahan adalah dengan melakukan kebaikan yang lebih banyak
lagi dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Ketiga: Ketika menulis, pensil
kadang beberapa kali berhenti karena tumpul, lalu menajamkan diri dengan
rautan. Tentu sakit karena ada bagian tubuh yang terpotong. Namun, setelah itu
pensil kembali tajam. Hidup ini tidak selalu berjalan mulus. Ada ujian dan
kesulitan, sesuatu yang tidak kita sukai. Tetapi lewat kesulitan itu kita
sering menjadi pribadi yang kuat. Lewat masalah kita menjadi lebih bijaksana.
Adanya tantangan kita menjadi lebih berani. Itulah cara Tuhan membuat kita
lebih kokoh dan dewasa, lalu berhasil. “Inna
ma’al usri yusra” . sungguh bersama kesulitan dan kemudahan.
Keempat: Bagian penting dari
pensil bukan kayunya tetapi arang yang ada didalamnya. Arang itulah yang
dipakai menulis. Manusia juga demikian. Bukan factor luarnya, bukan fisiknya
yang menjadi penentu kehidupan tetapi factor yang ada di dalam tubuh, yaitu
jiwanya. Perjalanan hidup kita tergantung pada kecerdasan intelektual,
kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual kita.
Kelima: Pensil itu meninggalkan
goresan. Sama dengan perjalanan hidup kita, selalu meninggalkan goresan. Itulah
yang akan terbaca oleh anak kita, keluarga, sahabat, dan lainnya. Goresan itu
terbaca ketika kita masih hidup dan setelah meninggal. Tentu disisi Tuhan semua
goresan itu terbaca terang benderang.
Kalimat bijak berikut ini pantut
di renungkan:
Saya mohon kekuatan. Dan Allah
memberi kesulitan agar saya kuat.
Saya mohon menjadi bijaksana. Dan
Allah memberi masalah untuk diselesaikan.
Saya mohon punya kelebihan. Dan Alah
memberi jalan untuk menemukan.
Saya mohon rasa cinta. Dan Allah
memberi orang bermasalah untuk dibantu.
Saya mohon kekayaan. Dan Allah
memberi bakat, kesehatan dan peluang.
Saya tidak
menerima apa yang saya minta.
Tetapi menerima
semua yang saya butuhkan.
amin
BalasHapus