Kamis, 06 Desember 2012

manusia ibarat pensil


MANUSIA IBARAT PENSIL

                Kita semua tahu pensil. Kita bisa menjalani hidup ini dengan tenang dan gembira jika kita mau belajar dari lima kualitasnya. Pertama: pensil itu bisa menulis karena ada tangan dibelakangnya, ada yang menggerakkan. Hidup kita juga demikian. Semua keberhasilan yang kita capai karena ada Tangan Tuhan yang membimbing. Itu sering kita lupakan ketika karir kita sedang naik membumbung atau usaha kita mencapai sukses. Sebaliknya, ketika menghadapi tantangan atau kesulitan atau kebimbangan, kita harus ingat bahwa Tuhan tidak membiarkan kita sendirian. Tangan Tuhan akan membimbing kita seperti tangan manusia membimbing pensil. Tuhan akan membantu melapangkan jalan bagi mereka yang punya niat tulus melakukan kebaikan untuk orang yang membutuhkan pertolongan.
                Kedua: Pensil memberi kesempatan menghapus tulisan yang salah lalu memperbaikinya. Kita juga demikian, harus bersedia rendah hati mengakui kesalahan dan membetulkan langkah kita. Cara terbaik menbus kesalahan adalah dengan melakukan kebaikan yang lebih banyak lagi dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
                Ketiga: Ketika menulis, pensil kadang beberapa kali berhenti karena tumpul, lalu menajamkan diri dengan rautan. Tentu sakit karena ada bagian tubuh yang terpotong. Namun, setelah itu pensil kembali tajam. Hidup ini tidak selalu berjalan mulus. Ada ujian dan kesulitan, sesuatu yang tidak kita sukai. Tetapi lewat kesulitan itu kita sering menjadi pribadi yang kuat. Lewat masalah kita menjadi lebih bijaksana. Adanya tantangan kita menjadi lebih berani. Itulah cara Tuhan membuat kita lebih kokoh dan dewasa, lalu berhasil. “Inna ma’al usri yusra” . sungguh bersama kesulitan dan kemudahan.
                Keempat: Bagian penting dari pensil bukan kayunya tetapi arang yang ada didalamnya. Arang itulah yang dipakai menulis. Manusia juga demikian. Bukan factor luarnya, bukan fisiknya yang menjadi penentu kehidupan tetapi factor yang ada di dalam tubuh, yaitu jiwanya. Perjalanan hidup kita tergantung pada kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual kita.
                Kelima: Pensil itu meninggalkan goresan. Sama dengan perjalanan hidup kita, selalu meninggalkan goresan. Itulah yang akan terbaca oleh anak kita, keluarga, sahabat, dan lainnya. Goresan itu terbaca ketika kita masih hidup dan setelah meninggal. Tentu disisi Tuhan semua goresan itu terbaca terang benderang.

                Kalimat bijak berikut ini pantut di renungkan:

Saya mohon kekuatan. Dan Allah memberi kesulitan agar saya kuat.
Saya mohon menjadi bijaksana. Dan Allah memberi masalah untuk diselesaikan.
Saya mohon punya kelebihan. Dan Alah memberi jalan untuk menemukan.
Saya mohon rasa cinta. Dan Allah memberi orang bermasalah untuk dibantu.
Saya mohon kekayaan. Dan Allah memberi bakat, kesehatan dan peluang.
Saya tidak menerima apa yang saya minta.
Tetapi menerima semua yang saya butuhkan.

1 komentar: