SEPERTI MAKAN KACANG
Cinta
akan di uji dan ujian itu adalah ketika cinta harus memilih. Bukan antara yang
dicintai dengan yang tidak di cintai atau yang baik dengan yang buruk,
melainkan ujian itu adalah ketika harus memilih antara dua hal yang sama-sama kita
cintai.
Tidak
ada kebaikan yang hilang. Barang siapa menanam, dia akan mengetam.
Cinta
akan selalu di uji. Tanpa ujian tidak bisa diketahui kualitas cinta karena
cinta bersemayam jauh dalam hati. Cinta diekspresikan lewat perbuatan. Dengan
perbuatan kita bisa mengetahui tanda-tanda cinta. Cara paling nyata adalah
dengan memberi. Tanpa kesediaan memberi, pernyataan cinta patut diragukan.
Memberi
materi itu penting tetapi ini hanyalah salah satu dari bentuk pemberian. Memberi
perhatian dengan bentuk kepedulian adalah pemberian yang tinggi nilainya. Ini
Nampak gampang tetapi banyak orang tidak bisa melakukan.
Apakah
anda cukup peduli dengan istri anda, bersedia mendengarkan ceritanya,
memberikan nafkah lahir dan batin, mendengarkan keluhannya dan pendapatnya?
Apakah anda peduli dengan anak anda, bersedia mendengarkan usulannya, memberi
jalan untuk mandiri dan berkembang atau sekedar memberi duit dan sudah merasa
memberi cinta?
Ini
ada sebuah kisah nyata antara ustadh dan seorang santri yang menanyakan dalam
suatu hubungan dengan lawan jenis seperti makan kacang.
“Jangan
berduaan dengan lawan jenis. Setan menjadi yang ketiga”, kata ustadz. “kalau
dengan orang yang lebih tua,tidak apa-apa bukan? Sahut seorang santri.
“Tetap
tidak boleh karena berduaan antara laki-laki dan perempuan itu seperti makan
kacang”’ jawab ustadz. Penjelasannya maksudnya di sini adalah hubungan lawan
jenis, laki-laki dan perempuan diatur sedemikian rupa dalam ajaran Islam.
Seringkali
kehidupan ini hancur bermula dari kontak antara keduanya melampaui kelaziman
yang ditetapkan agama. Secara umum islam sudah menggariskan agar jangan sampai
kita mendekati perbuatan zina. Mengapa agama menggunakan larangan jangan
mendekati, bukan langsung bilang jangan berzina!? Kita semua sudah tau jawabannya.
Itu pertanda betapa besar bahaya dan dampak buruk yang diakibatkan perbuatan
zina.
Ada
sejumlah petunjuk praktis agar tidak terjerumus dalam zina. Misalnya tidak
boleh berduaan antara laki-laki perempuan ditempat sepi, tidak boleh wanita
membiarkan aurat terbuka, atau sengaja menarik perhatian laki-laki. Seorang
santri bertanya mengapa tidak boleh berduaan?
“Jika
kalian berduaan, setan yang ketiga”. Jawab ustadz. “Umur berapa tidak boleh berduaan?”
“Tidak
ada batas umur, asal sudah baligh”
“Kalau
dengan perempuan yang lebih tua, STW (setengah tua)?”.
“Tetap
tidak boleh karena berduaan itu seperti makan kacang”. “Maksud ustadz….?”
Ustadz
tidak menjawab tetapi malah menyuruh ke tiga santri itu untuk makan kacang
rebus. “jawaban setelah kalian menghabiskan kacang ini” kata ustadz. Sang
ustadz memperhatikan dengan seksama muridnya yang sedang melahap habis kacang
itu. Sang ustadz memperhatikan dengan seksama. Tiga murid itu tidak faham
dengan maksud ustadznya yang telah menyamakan berduaan dengan lawan jenis
seperti makan kacang.
“Saya
perhatikan cara kalian makan kacang tadi, semuanya sama. Mula-mula kalian ambil yang mentes, padat
berisi lalu yang kurang berisi. Demikian juga sikap kalian dengan perempuan.
Kalau ada yang padat berisi, montok, kalian pilih mereka. Tetapi kalau tidak
ada, yang kampong,kemps setengah tuapun akan kalian ambil juga. Maka berduaan
itu dilarang walaupun dengan orang setengah tua. Setan sangat kuat”.
Mereka
terdiam. Lalu tertawa sambil mengangguk-angguk. “ sebaliknya kita yang muda-muda
ini segera kawin ya,,,supaya tidak terjerumus godaan setan”, kata salah seorang
santri. “Maksud saya nikah siri dulu, guru. Nanti setelah lulus kuliah, kita
nikah beneran”.
Ustadz
menjawab tegas: “Semua nikah itu nikah beneran yang tidak nikah beneran itu
namanya bukan pernikahan.
Tujuan
utama pernikahan bukan sekedar menghalalkan hubungan badan tetapi tujuan
pernikahan adalah membentuk keluarga sakinah,
mawaddah, warrohmah. Dalam islam suami bertanggung jawab penuh kepada
istri. Ketika seorang laki-laki mengawini perempuan sebagai istri, maka dia
harus bertanggung jawab atas semua kebutuhan istrinya, jasmani dan rohani.
Jangan
ambil enaknya saja. Dia bebas menggauli istrinya tetapi semua kebutuhan
istrinya diserahkan kepada mertuannya. Ini suami tidak bertanggung jawab. Kalau
belum mampu jangan menikah. Islam tidak mengajarkan nikah siri kalau belum
mampu. Lalu apa jalan keluarnya?
“Waman lam yastathi’ fa alaihi bis shaumi
fainnahu lahu wijaun”, (Barang siapa belum mampu (menikah) hendaklah dia
berpuasa karena puasa itu mengurang syahwat baginya). HR Muttafaq Alaihi.
Jadi
mereka yang belum mampu menikah karena masih sekolah, belum kerja atau sebab
lainnya, dianjurkan berpuasa, bukan nikah siri. Puasa ini lah jalan terbaik dan
dibenarkan agama. Namun banyak pemuda sekarang, menikah belum mampu tetapi
berpuasa tidak mau. Yang dia pilih semaunya sendiri lalu nikah siri.
Audzu
mindalik semoga saja saya melangsungkan pernikahan secara agama islam dan
sesuai aturan norma di Negara Indonesia serta Legal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar