Kamis, 06 Desember 2012

seperti makan kacang cinta itu


SEPERTI MAKAN KACANG

Cinta akan di uji dan ujian itu adalah ketika cinta harus memilih. Bukan antara yang dicintai dengan yang tidak di cintai atau yang baik dengan yang buruk, melainkan ujian itu adalah ketika harus memilih antara dua hal yang sama-sama kita cintai.
Tidak ada kebaikan yang hilang. Barang siapa menanam, dia akan mengetam.
Cinta akan selalu di uji. Tanpa ujian tidak bisa diketahui kualitas cinta karena cinta bersemayam jauh dalam hati. Cinta diekspresikan lewat perbuatan. Dengan perbuatan kita bisa mengetahui tanda-tanda cinta. Cara paling nyata adalah dengan memberi. Tanpa kesediaan memberi, pernyataan cinta patut diragukan.
Memberi materi itu penting tetapi ini hanyalah salah satu dari bentuk pemberian. Memberi perhatian dengan bentuk kepedulian adalah pemberian yang tinggi nilainya. Ini Nampak gampang tetapi banyak orang tidak bisa melakukan.
Apakah anda cukup peduli dengan istri anda, bersedia mendengarkan ceritanya, memberikan nafkah lahir dan batin, mendengarkan keluhannya dan pendapatnya? Apakah anda peduli dengan anak anda, bersedia mendengarkan usulannya, memberi jalan untuk mandiri dan berkembang atau sekedar memberi duit dan sudah merasa memberi cinta?
Ini ada sebuah kisah nyata antara ustadh dan seorang santri yang menanyakan dalam suatu hubungan dengan lawan jenis seperti makan kacang.
“Jangan berduaan dengan lawan jenis. Setan menjadi yang ketiga”, kata ustadz. “kalau dengan orang yang lebih tua,tidak apa-apa bukan? Sahut seorang santri.
“Tetap tidak boleh karena berduaan antara laki-laki dan perempuan itu seperti makan kacang”’ jawab ustadz. Penjelasannya maksudnya di sini adalah hubungan lawan jenis, laki-laki dan perempuan diatur sedemikian rupa dalam ajaran Islam.
Seringkali kehidupan ini hancur bermula dari kontak antara keduanya melampaui kelaziman yang ditetapkan agama. Secara umum islam sudah menggariskan agar jangan sampai kita mendekati perbuatan zina. Mengapa agama menggunakan larangan jangan mendekati, bukan langsung bilang jangan berzina!? Kita semua sudah tau jawabannya. Itu pertanda betapa besar bahaya dan dampak buruk yang diakibatkan perbuatan zina.
Ada sejumlah petunjuk praktis agar tidak terjerumus dalam zina. Misalnya tidak boleh berduaan antara laki-laki perempuan ditempat sepi, tidak boleh wanita membiarkan aurat terbuka, atau sengaja menarik perhatian laki-laki. Seorang santri bertanya mengapa tidak boleh berduaan?
“Jika kalian berduaan, setan yang ketiga”. Jawab ustadz.   “Umur berapa tidak boleh berduaan?”
“Tidak ada batas umur, asal sudah baligh”
“Kalau dengan perempuan yang lebih tua, STW (setengah tua)?”.
“Tetap tidak boleh karena berduaan itu seperti makan kacang”. “Maksud ustadz….?”
Ustadz tidak menjawab tetapi malah menyuruh ke tiga santri itu untuk makan kacang rebus. “jawaban setelah kalian menghabiskan kacang ini” kata ustadz. Sang ustadz memperhatikan dengan seksama muridnya yang sedang melahap habis kacang itu. Sang ustadz memperhatikan dengan seksama. Tiga murid itu tidak faham dengan maksud ustadznya yang telah menyamakan berduaan dengan lawan jenis seperti makan kacang.
“Saya perhatikan cara kalian makan kacang tadi, semuanya sama.  Mula-mula kalian ambil yang mentes, padat berisi lalu yang kurang berisi. Demikian juga sikap kalian dengan perempuan. Kalau ada yang padat berisi, montok, kalian pilih mereka. Tetapi kalau tidak ada, yang kampong,kemps setengah tuapun akan kalian ambil juga. Maka berduaan itu dilarang walaupun dengan orang setengah tua. Setan sangat kuat”.
Mereka terdiam. Lalu tertawa sambil mengangguk-angguk. “ sebaliknya kita yang muda-muda ini segera kawin ya,,,supaya tidak terjerumus godaan setan”, kata salah seorang santri. “Maksud saya nikah siri dulu, guru. Nanti setelah lulus kuliah, kita nikah beneran”.
Ustadz menjawab tegas: “Semua nikah itu nikah beneran yang tidak nikah beneran itu namanya bukan pernikahan.
Tujuan utama pernikahan bukan sekedar menghalalkan hubungan badan tetapi tujuan pernikahan adalah membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warrohmah. Dalam islam suami bertanggung jawab penuh kepada istri. Ketika seorang laki-laki mengawini perempuan sebagai istri, maka dia harus bertanggung jawab atas semua kebutuhan istrinya, jasmani dan rohani.
Jangan ambil enaknya saja. Dia bebas menggauli istrinya tetapi semua kebutuhan istrinya diserahkan kepada mertuannya. Ini suami tidak bertanggung jawab. Kalau belum mampu jangan menikah. Islam tidak mengajarkan nikah siri kalau belum mampu. Lalu apa jalan keluarnya?
Waman lam yastathi’ fa alaihi bis shaumi fainnahu lahu wijaun”, (Barang siapa belum mampu (menikah) hendaklah dia berpuasa karena puasa itu mengurang syahwat baginya). HR Muttafaq Alaihi.

Jadi mereka yang belum mampu menikah karena masih sekolah, belum kerja atau sebab lainnya, dianjurkan berpuasa, bukan nikah siri. Puasa ini lah jalan terbaik dan dibenarkan agama. Namun banyak pemuda sekarang, menikah belum mampu tetapi berpuasa tidak mau. Yang dia pilih semaunya sendiri lalu nikah siri.
Audzu mindalik semoga saja saya melangsungkan pernikahan secara agama islam dan sesuai aturan norma di Negara Indonesia serta Legal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar